Senin, 15 Maret 2010

terapi untuk anak autis

Terapi Untuk Anak Autistik

Sesuai dengan problema yang dialami anak gangguan autisik, maka terapi perlu diberikan untuk membangun kondisi yang lebih baik. Terapi juga harus rutin dilakukan agar apa yang menjadi kekurangan anak dapat terpenuhi secara bertahap. Bagi orang tua anak dengan kelainan ini disarankan oleh para ahli untuk menggunakan metode ABA dengan rutin dan disiplin. Terapi juga harus dilakukan sedini mungkin, sebelum anak berusia 5 tahun. Sebab, perkembangan pesat otak anak umumnya terjadi pada usia sebelum 5 tahun, puncaknya pada usia 2-3 tahun. Beberapa terapi yang ditawarkan oleh para ahli adalah:

1. Terapi Biomedik

Terapi ini dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Mereka menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Karena itulah, terapi biomedikfokus pada pembersihan fungsi-fungsi abnormal pada otak. Anak-anak akan diperiksa secara intensif. Dengan terapi ini diharapkan fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga gejala autisme berkurang atau bahkan menghilang.

Obat-obatan juga digunakan untuk penyandang autisme, namun sifatnya sangat individual dan perlu berhati-hati, sebaiknya ketika menggunakan jenis obat diserahkan kepada Dokter Spesialis yang lebih memahami dan mempelajari autisme. Beberapa food suplement dan vitamin yang sering dipakai saat ini untuk anak autisme adalah vitamin B6, TMG, Omega-3, Magnesium, dan sebagainya.

Terapi biomedik melengkapi terapi lainnya dengan memperbaiki “dari dalam” (biomedis). Dengan penggunaan obat, diharapkan perbaikan akan lebih cepat terjadi. Dengan menggunakan terapi dari dalam dan luar diri, ternyata banyak anak yang mengalami kemajuan cukup bagus.

2. Terapi Okupasi

Sesuai dengan problem yang dialami anak gangguan autistik, yaitu pada aspek motorik, sensorik, kognitif, intrapersonal, interpersonal, perawatan diri, produktivitas, maka kegiatan terapi okupasi diarahkan untuk membantu mengatasi permasalahan tersebut.

Treatment yang dilakukan dengan menggunakan sensori integrasi (Ayers), neurodevelopment treatment (Bobabth), modifikasi perilaku, dan terapi bermain.

a. Motorik

Treatment terapi okupasi bertujuan untuk membantu mengembangkan pada aspek motorik. Kegiatan yang dapat diberikan berupa:

1. Bermain bola

Tujuan umum mengembangkan kemampuan motorik agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan khusus memberikan keterampilan motorik kasar melalui kegiatan bermain.

b. Sensorik

Terapi okupasi untuk membantu mengembangkan pada aspek sensori, kegiatan yang dapat diberikan melalui:

1. Berayun-ayun

Tujuan umum mengembangkan kemampuan sensorik agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan khusus mengurangi hiperrespon dan hiperaktif.

2. Berjalan mengikuti garis tengah lurus

· Tujuan umum :

Mengembangkan kemampuan sensorik agar dapat berkembang seoptimal mungkin.

· Tujuan Khusus :

Meningkatkan body awareness

3. Bermain scooter board

Tujuan umum mengembangkan kemampuan sensorik agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan khusus meningkatkan keterampilan hubungan spasial

c. Kognitif

Terapi okupasi untuk membantu mengembangkan pada aspek kognitif, kegiatan yang dapat diberikan melalui:

1. Melihat-lihat gambar mobil

Tujuan umum mengembangkan kognitif agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan Khusus meningkatkan fokus aktivitas dan mendengarkan instruksi

2. Memainkan plastisin

Tujuan umum mengembangkan kognitif agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan Khusus memusatkan perhatian

d. Intrapersonal

Terapi okupasi untuk membantu mengembangkan pada aspek Intrapersonal

, kegiatan yang dapat diberikan melalui:

1. Bermain Form Board

Tujuan umum mengembangkan aspek intrapersonal agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan khusus mengurangi stress

2. Melukis

Tujuan umum mengembangkan aspek intrapersonal agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan Khusus mengurangi perilaku repetitif

e. Interpersonal

Terapi okupasi untuk membantu mengembangkan aspek interpersonal, kegiatan yang dapat diberikan melalui:

1. Berolahraga

Tujuan umum mengembangkan aspek interpersonal agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan khusus mengembangkan kemampuan sosial melalui olahraga

f. Perawatan diri

Terapi okupasi untuk membantu mengembangkan aspek perawatan diri. Kegiatan yang dapat diberikan melalui:

1. Membersihkan Tempat Tidur

Tujuan umum mengembangkan aspek perawatan diri agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan Khusus meningkatkan kemandirian dalam melakukan kegiatan hidup sehari-hari.

2. Menyisir rambut

Tujuan umum mengembangkan aspek perawatan diri agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan khusus meningkatkan kemandirian dalam melakukan kegiatan hidup sehari-hari.

g. Produktivitas

Terapi okupasi untuk membantu mengembangkan aspek produktivitas. Kegiatan yang dapat diberikan melalui:

1. Bermain kelereng

Tujuan umum mengembangkan aspek produktivitas agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan Khusus meningkatkan keterampilan bermain yang kooperatif.

h. Leisure (pengisian waktu luang)

Terapi okupasi untuk membantu mengembangkan aspek leisure, kegiatan yang dapat diberikan melalui:

1. Memelihara ayam

Tujuan umum mengembangkan aspek leisure agar dapat berkembang seoptimal mungkin. Tujuan khusus mengembangkan minat anak.

3. Terapi Integrasi Sensoris

Integrasi sensoris berarti kemampuan untuk mengolah dan mengartikan seluruh rangsang sensoris yang diterima dari tubuh maupun lingkungan, dan kemudian menghasilkan respon yang terarah. Terapi ini berguna meningkatkan kematangan susunan syaraf pusat, sehingga lebih mampu untuk memperbaiki struktur dan fungsinya. Aktivitas ini merangsang koneksi sinaptik yang lebih kompleks, dengan demikian bisa meningkatkan kapasitas untuk belajar.

4. Terapi Bermain

International Association for Play Therapy (APT), sebuah asosiasi terapi bermain yang berpusat di Amerika, mendefinisikan Terapi Bermain sebagai penggunaan secara sistematik dari model teoritis untuk memantapkan proses interpersonal. Pada terapi ini, terapis bermain menggunakan kekuatan terapiutik permainan untuk membantu klien menyelesaikan kesulitan-kesulitan psikososial dan mencapai pertumbuhan, perkembangan yang optimal.

Terapi bermain adalah pemanfaatan pola permainan sebagai media yang efektif dari terapis, melalui kebebasan eksplorasi dan ekspresi diri. Bermain merupakan bagian integral dari masa kanak-kanak, salah satu media yang unik dan penting untuk memfasilitasi perkembangan:

· Ekspresi bahasa,

· Keterampilan komunikasi,

· Perkembangan emosi, keterampilan sosial,

· Keterampilan pengambilan keputusan, dan

· Perkembangan kognitif pada anak-anak (Landreth, 2001).

Bermain merupakan bentuk ekspresi yang paling lengkap yang pernah dikembangkan manusia. Menurut McCune, Nicolich, & Fenson (dalam Schaefer, et al., 1991) bermain dibedakan dalam hal:

a. Ditujukan demi kesenangan sendiri

b. Lebih fokus pada makna daripada hasil akhir

c. Diarahkan pada eksplorasi subjek untuk melakukan sesuatu pada objek

d. Tanpa mengharapkan hasil serius

e. Tidak diatur oleh aturan eksternal

f. Adanya keterikatan aktif dari pemainnya.

Sedangkan Garvey dan Piaget menambahkan bahwa permainan haruslah:

a. Menyenangkan

b. Spontan, sukarela, motivasinya instrinsik

c. Fleksibel dan

d. Berkait dengan pertumbuhan fisik dan kognitif.

Beberapa definisi terapi bermain tersebut mengarah pada beberapa hal penting, yaitu:

a. Tipe dan jumlah permainan yang digunakan

b. Konteks permainan

c. Partisipan yang terlibat

d. Urutan permainan

e. Ruang yang digunakan

f. Gaya bermain

g. Tingkat usaha yang dicurahkan.

Terapi bermain yang dilakukan dapat dengan berbagai cara seperti:

1. Mainan kehidupan nyata, yaitu boneka yang terdiri atas keluarga (Bapak, ibu, anak), boneka rumah-rumahan, binatang peliharaan atau tokoh kartun dapat menjadi media untuk mengekspresikan secara langsung. Terapis dapat menggunakan mainan keseharian seperti mobil-mobilan, alat masak-memasak tiruan, kartu bergambar, atau kapal-kapalan untuk melihat pengalaman hidup klien.

2. Mainan pelepas agresivitas-bermain peran, klien dapat mengkomunikasikan emosi yang terpendam melalui mainan, atau materi seperti karung tinju, boneka tentara, boneka dinosaurus dan hewan buas, pistol dan pisau mainan.

3. Mainan pelepas emosi dan ekspresi kreativitas, Pasir, air, balok atau lilin dapat menjadi sarana anak mengekspresikan emosi atau kreativitasnya.

5. Terapi Perilaku

Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan yang kekurangan (belum ada) ditambahkan. Termasuk ke dalam jenis terapi ini adalah metode Applied Behavioral Analysis (ABA) yang diciptakan oleh O Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA), seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Terapi ini memfokuskan penanganan pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespon benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespon negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespon sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Diharapkan perlakuan ini dapat meningkatkan kemungkinan anak agar berespon positif dan mengurangi kemungkinan dia berespon negatif (atau tidak berespon) terhadap instruksi yang diberikan.

Misalnya: ketika anak diminta untuk duduk atau anak mampu untuk menulis sesuai perintah maka dengan otomatis kita memberikan sikap positif, bisa dengan mengajak dia “tos” atau bertepuk tangan sambil mengatakan “bagus” atau “pinter”.

Tujuan penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak terhadap aturan. Dari terapi ini hasil yang didapatkan signifikan bila mampu diterapkan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia dini.

6. Terapi Fisik

Beberapa penyandang autisme memiliki gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya. Kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya juga kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-otot dan memperbaiki keseimbangan tubuh anak.

7. Terapi Wicara

Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai kemampuan bicaranya untuk berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, materi speech terapy sebaiknya dilakukan berkolaborasi dengan metode ABA. Selain itu mereka juga harus memahami langkah-langkah dalam metode Lovaas sebagai dasar bagi materi yang akan diberikan.

Terapis wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan berkomunikasi atau gangguan pada berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa maupun anak. Terapis wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan konseling mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi; dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus.

Terdapat beberapa gangguan komunikasi pada penderita autis, Salah satunya adalah Autistic Spectrum Disorders (ASD). Gangguan komunikasi ini bersifat verbal, non verbal, maupun kombinasi.

Area bantuan dan terapi yang dapat diberikan oleh Terapis Wicara:

1. Artikulasi atau pengucapan : Artikulasi atau Pengucapan menjadi kurang sempurna disebabkan adanya gangguan. Latihan untuk pengucapan diikutsertakan Cara dan Tempat Pengucapan (Place and Manners of Articulation). Kesulitan pada artikulasi atau pengucapan, dibagi menjadi: substitution (pergantian), misalnya: rumah menjadi lumah, i/r; omission (penghilangan), misalnya satu menjadi atu; distorsion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas; dan addition (penambahan). Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular.

2. Untuk organ bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, terapis wicara akan mengikutsertakan latihan

· Oral peripheral Mechanism Exercises

· Oral Motor Activities : merupakan sebuah aktivitas yang melatih fungsi dari motorik organ bicara pada manusia, sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.

3. Untuk bahasa: aktivitas yang menyangkut tahapan bahasa antara lain:

· Phonology (bahasa bunyi)

· Sematics (kata), termasuk pengembangan kosa kata;

· Morphology (perubahan pada kata) ;

· Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa;

· Discourse (Pemakaian bahasa dalam konteks yang luas) ;

· Metalinguistics (Bagaimana sebuah bahasa bekerja) ;

· Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial).

Sudjarwanto. (2003). Terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

problema anak autis

Problema Anak Autistik

Anak yang mengalami gangguan autistik mengalami permasalahan yang sangat kompleks. Permasalahan tersebut meliputi; motorik, sensorik, kognitif, intrapersonal, interpersonal, perawatan diri, produktivitas, serta leisure (Reed 1991).

1. Motorik

· Stereotipik gerakan tubuh seperti menjentik tangan, menjedotkan kepala, berayun-ayun dan berputar-putar. Perilaku ini diklasifikasikan sebagai self stimulating atau perilaku self abusive.

· Keterampilan motorik kasar dan halus yang buruk.

· Respon terhadap stimulus reflek tertunda.

· Penurunan tonus ekstensor dan atau fleksor.

· Kontraksi dan stabilitas sendi yang buruk, khususnya pada otot leher.

2. Sensorik

· Biasanya sistem sensorik tidak terganggu, tetapi respon input (sensory registrasi) dirubah dari perilaku hiperresponsif ke hiporesponsif.

· Deaffnes (ketulian) sering disebut karena anak tidak berespon atau terlambat dalam merespon suara manusia.

· Tidak berespon terhadap sentuhan tetapi mencapai input taktil.

· Tidak melihat manusia tetapi berespon terhadap objek secara cepat.

· Tidak berespon terhadap nyeri.

· Tidak berespon terhadap stimulus visual dan auditif tetapi overrespons terhadap stimulus visual dan dan auditif yang lain.

· Mencari stimulus vestibular ketika menghindari stimulus lain.

· Hubungan spasial yang buruk.

3. Kognitif

· Intelegensi berkisar antara normal sampai dengan retardasi mental berat.

· Anak dengan intelegensi dibawah 50 mempunyai prognosis yang buruk.

· Gangguan belajar biasa terjadi seperti disleksia.

· Attending behaviour dan perilaku penyesuaian diri serta kontak mata yang

buruk.

· Rentang atensi yang pendek dan konsentrasi yang buruk.

4. Intrapersonal

· Menunjukkan perlawanan yang kuat untuk mengubah lingkungan yang responnya dengan menangis dan berteriak.

· Menolak saat mengikuti rutinitas secara detil.

· Melakukan tindakan berulang-ulang atau presevarete certain behaviour, seperti berputar-putar.

5. Interpersonal

· Kurang sadar dengan keberadaan atau perasaan seseorang.

· Gagal dalam mengatasi stress.

· Mengakukan badan saat diangkat.

· Mencegah kontak mata.

· Idiosyncratic speech, seperti ekolalia.

· Kedekatan yang kuat terhadap objek tetapi tidak terhadap manusia.

· Ketidakmampuan mengimitasi perilaku sosial.

6. Perawatan diri

· Kurang mampu melakukan aktivitas perawatan diri.

7. Produktivitas

· Susah belajar untuk melakukan tugas yang dikehendaki.

· Tidak mempunyai keterampilan dalam bermain sosial dan lebih menyenangi bermain.

8. Leisure

· Memiliki kesulitan dalam mengembangkan minat.

Sudjarwanto. (2003). Terapi okupasi untuk anak berkebutuhan khusus. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

gejala dan gangguan

Gejala dan gangguan

Secara terperinci Powers (dalam Djamaludin: 2003) mengemukakan, bahwa karakteristik anak autis adalah adanya 6 (enam) gejala/ gangguan, yaitu dalam bidang:

1. Interaksi sosial:

· Tidak tertarik untuk bermain bersama teman.

· Lebih suka menyendiri.

· Tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan.

· Senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta minum.

2. Komunikasi (bicara, bahasa dan komunikasi)

· Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada.

· Senang meniru atau membeo (ekolalia).

· Anak tampak seperti tuli, sulit bicara, atau pernah berbicara tetapi kemudian sirna.

· Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya.

· Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti orang lain.

· Bicara tidak dipakai untuk alat komunikasi.

· Bila senang meniru, dapat hafal betul kata-kata atau nyanyian tersebut tanpa mengerti artinya.

· Sebagian dari anak ini tidak berbicara (non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa.

3. Pola bermain

· Tidak bermain seperti pada anak-anak pada umumnya.

· Senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda, gasing.

· Tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik, rodanya diputar-putar.

· Tidak kreatif, tidak imajnatif.

· Dapat sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.

4. Gangguan sensoris

· Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga.

· Sering menggunakan indera penciuman dan perasanya, seperti senang mencium-cium, menjilat-jilat mainan atau benda-benda.

· Dapat sangat sensitive terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk.

· Tidak sensitive terhadap rasa sakit, rasa takut.

5. Perkembangan terlambat atau tidak normal

· Perkembangan tidak sesuai seperti pada anak normal, khususnya dalam hal keterampilan sosial, komunikasi dan kognitif.

· Dapat mempunyai perkembangan yang normal pada awalnya, kemudian menurun atau bahkan sirna, misalnya pernah dapat bicara kemudian hilang.

6. Penampakan gejala

· Gejala diatas dapat mulai tampak sejak lahir atau saat masih kecil. Biasanya sebelum usia 3 tahun gejala sudah ada.

· Pada beberapa anak sekitar usia 5-6 tahun gejala tampak agak berkurang.

Selain karakteristik seperti disebutkan diatas, gejala lain yang sering nampak pada anak autistik adalah dalam bidang :

1. Perilaku:

· Memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang mengepakkan tangan seperti burung, mendekatkan mata ke pesawat TV, lari/ berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang.

· Tidak suka pada perubahan.

· Dapat pula duduk bengong dengan tatapan kosong.

2. Emosi

· Sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan.

· Temper tentrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya.

· Kadang suka menyerang dan merusak.

· Kadang-kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri.

· Tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain.

karakteristik autis

Karakteristik

Untuk menentukan autisme bukanlah hal yang mudah, sebab gejala autisme tampak mirip seperti skizofrenia, mental retardation, sindrom asperger dan lainnya, oleh sebab itu untuk mengidentifikasi yang betul-betul akurat perlu dilakukan bermacam-macam tes. Edi (2003) mengemukakan bahwa untuk mendiagnosis autisme perlu bermacam-macam tes kesehatan seperti :

1. Pemeriksaan pendengaran

2. Electroenchepalogram (EEG)

3. Magnetic Resonance Imaging (MRI)

4. Computer Assisted Axial Tomography

5. Tes Genetik

Mendasarkan bermacam-macam tes kesehatan tersebut dan dilakukan pengamatan maka dapat dikatakan autis jika terbukti :

1. Hubungan sosial yang terbatas dan buruk

2. Keterampilan komunikasi belum sempurna

3. Perilaku berulang-ulang, minat dan aktivitaspun berkurang

Untuk mendiagnosis anak autisme hanya dapat dilakukan oleh seorang ahli yang cukup berpengalaman seperti; psikolog perkembangan anak, dokter spesialis perkembangan anak, dan psikiater anak. Menurut DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual, 1994) anak didiagnosis menyandang autis jika mempunyai gejala:

A Harus ada 6 gejala dari (1), (2), (3),dengan minimal 2 gejala dari (1) dan 1 gejala dari (2) dan (3).

1. Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial dan timbal balik. Minimal harus ada 2 gejala dibawah ini:

a. Tidak mampu menjalani interaksi sosial yang cukup memadai kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak-gerik kurang tertuju.

b. Tidak bisa bermain dengan teman sebaya.

c. Tidak empati (tak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain).

d. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional yang timbal balik.

2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi, minimal harus ada satu dari gejala-gejala dibawah ini :

a. Perkembangan terlambat atau sama sekali tidak berkembang. Anak tidak berusaha untuk berkomunikasi secara non-verbal.

b. Bila anak bisa bicara, maka bicaranya tidak dipakai untuk berkomunikasi.

c. Sering menggunakan bahasa aneh yang di ulang-ulang.

d. Cara bermain kurang variatif, kurang imajnatif dan kurang dapat meniru.

3. Adanya suatu pola yang dipertahankan dan diulang-ulang dalam perilaku, minat dan kegiatan. Minimal harus ada satu gejala-gejala dibawah ini :

a. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang khas dan berlebihan.

b. Terpaku pada suatu kegiatan dan yang rutinitas yang tidak ada gunanya.

c. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan diulang-ulang.

d. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian benda.

B Sebelum umur 3 tahun tampak adanya keterlambatan atau gangguan dalam bidang (1) interaksi sosial, (2) Bicara dan berbahasa, (3) Cara bermain yang monoton, kurang variatif.

C Bukan disebabkan oleh Sindrome Rett atau gangguan disintegratif masa kanak.

Anak autistik menunjukkan kondisi yang heterogen dari tingkatan ringan, sedang, sampai yang berat. Untuk menentukan berat ringannya autisme pada anak dapat dilakukan pengukuran. Sapiie (2000) mengemukakan untuk menentukan berat ringannya autisme anak dapat dilakukan dengan menggunakan The Childhood Autism Rating Scale (CARS). Untuk mengobservasi tingkah laku anak sebaiknya dibandingkan dengan anak normal seumurnya. Jika tingkah laku yang diobservasi tidak normal untuk anak seumurnya maka harus dipertimbangkan sejauh mana keanehannya, frekuensinya, intensitasnya dan lamanya tingkah laku tersebut.

The Childhood Autism Rating Scale (CARS) terdiri dari 15 butir yaitu :

1. Relasi atau hubungan dengan orang lain; yaitu bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai situasi. Misalnya menghindar menatap orang dewasa, tidak respon kepada orang tua sebagaimana anak lain.

2. Imitasi ( meniru ) yaitu bagaimana anak menirukan kata atau suara perilaku, apakah harus dengan dorongan, paksaan atau sama sekali tak pernah menirukan.

3. Respon emosional, yaitu bagaimana reaksi anak terhadap situasi yang menyenangkan, misalnya ketika dipeluk-cium, dipuji, digelitik, diberi mainan / mainan kesukaannya.

4. Penggunaan badan / tubuh baik untuk gerakan koordinasi maupun gerakan-gerakan yang lain sesuai dengan keadaan ; misalnya ketepatan sikap dan gerakan tubuh, jinjit, memutar, tepuk tangan, menari, bermain, menggambar, menggunting dan sebagainya.

5. Penggunaan benda-benda ( objek ) yaitu minat anak terhadap mainan atau benda lain serta bagaimana anak menggunakannya . Perhatikan bagaimana anak berinteraksi dengan mainan dan objek lain terutama pada aktivitas yang tidak terstruktur. Perhatikan dengan seksama bagaimana anak menggunakan mainan yang berjuntai atau putaran, apakah terjadi keasyikan dan pengulangan yang berlebihan.

6. Adaptasi terhadap perubahan; yaitu adaptasi terhadap perubahan hal-hal yang telah rutin atau telah terpola , dan kesulitan mengubah suatu aktivitas lain. Misalnya bagaimana reaksi anak terhadap perubahan penataan mebel , pergi dengan rute berbeda, penggantian pengasuh / guru dan sebagainya.

7. Respon visual; yaitu pola-pola perhatian visual yang tidak lazim, misalnya menghindari kontak mata ketika berinteraksi dengan orang tua atau melihat objek / mainan dari sudut yang tidak lazim.

8. Repon mendengarkan, yaitu perilaku mendengarkan yang tidak biasanya atau respon yang tidak lazim terhadap bunyi-bunyian termasuk reaksi anak terhadap suara orang dan jenis-jenis suara lain . Misalnya anak seolah-olah tidak mendengar suara yang sangat keras, tetapi pada waktu yang lain bereaksi terhadap suara yang biasa.

9. Respon kecap ( pengecapan ), mencium ( membau ) dan raba; misalnya bagaimana respon anak terhadap rangsangan kecap, bau, dan raba, misalnya penolakan atau minat berlebihan terhadap bau , rasa dan bentuk tertentu dari makanan atau bentuk maian tertentu.

10. Ketakutan dan kegelisahan; yaitu rasa takut yang tidak wajar dan tidak semestinya, misalnya ketakutan yang berlangsung terus terhadap objek yang secara normal tidak menakutkan atau tidak takut terhadap sesuatu yang ditakuti anak normal.

11. Komunikasi verbal ( kata ); perhatikan anak dalam menggunakan kata dan cara berbicara, amati perbendaharaan kata, struktur kalimat, volume dan ritme suara. Apakah memperlihatkan keanehan, tidak tepat atau kacau.

12. Komunikasi non verbal ; yaitu komunikasi dengan penggunaan ekspresi /mimik muka, sikap tubuh dan gerak tubuh, serta respon anak terhadap komunikasi non verbal dari orang lain. Apakah anak dapat menunjuk dan menjangkau sesuatu yang mereka inginkan, apakah hanya menggunakan isyarat yang kacau dan aneh. Apakah anak tidak menunjukkan perhatian pada isyarat dari orang tua / anak lain.

13. Derajat aktivitas; yaitu seberapa anak bergerak baik dalam situasi yang dibatasi maupun yang tidak dibatasi . Apakah aktivitasnya berlebihan atau tampak lesu. Perhatikan tingkat aktivitas anak yang teratur dan tekun . Jika lesu apakah anak bisa diberi semangat untuk beraktivitas dan seberapa banyak orang tua harus memberi semangat dan dorongan agar anak mau beraktivitas. Jika aktivitasnya berlebihan apakah bisa diberitahu untuk menjadi tenang dan duduk diam. Dalam penilaian ini perlu dipertimbangkan faktor kelelahan dan efek medik.

14. Derajat dan konsentrasi respon intelektual. Perhatikan bagaimana anak mengerti dan menggunakan bahasa, angka, dan konsep, bagaimana kemampuannya dalam mengingat benda-benda yang pernah ia lihat atau dengar serta bagaimana anak menjelajahi lingkungannya.

15. Kesan umum, yaitu kesan subjektif observer tentang anak

Anak autisme mempunyai gambaran unik tersendiri. Intelegensia tiap anak autis berbeda satu dengan lainnya. Diperkiraan 60% anak autis mempunyai intelegensia dibawah 50 . 20 % , anak autis mempunyai 70 atau lebih. Sutadi (1997 ) mengemukakan karakeristik anak autistik meliputi kecendrungan:

1. Selektif berlebihan terhadap rangsang yaitu kemampuan terbatas dalam menangkap isyarat yang berasal dari lingkungan.

2. Kurangnya motivasi, tidak hanya mereka sering menarik diri dan asik sendiri, mereka juga cenderung tidak termotivasi untuk menjelajahi lingkungan baru, untuk memperluas lingkup perhatian mereka.

3. Respon stimulasi diri; jika diberi kesempatan banyak penyandang autistik yang yang menghabiskan sebagian besar waktu bangun/ terjaganya pada aktivitas non produktif tersebut. Perilaku tersebut selain mengganggu integrasi sosial juga menggangu proses belajar. Oleh sebab itu menurunkan perilaku stimulasi diri dan menggantikannya dengan respon yang lebih produktif sering merupakan tujuan bagi anak autistik.

4. Respon unik terhadap hadiah (reinfocement) dan konsekuensi lainnya; ini merupakan karakteristik dari penyandang autistik, sehingga hadiah amat individualistik, kadang sukar diidentifikasi. Pada anak autistik belajar paling efektif pada kondisi imbalan langsung. Supaya memperoleh imbalan langsung seorang anak harus secara benar merespon pada suatu rangkaian perilaku.

gejala awal autisme

Gejala Awal Autisme

Published by Lita November 9th, 2006

Ini adalah tulisan kedua dari ibu Julia. Lanjutan dari Ciri-ciri Autisme. Patut disimak.

GEJALA AWAL AUTISME

Masih ingat atau masih mengalami saat anak kita tengah belajar bicara di usianya yang ke satu atau satu setengah tahun? Ia akan menyebutkan apa yang dilihatnya dengan cara menunjukkan ke satu objek dan menyebutkan nama objek itu. Cara-cara ini disebut sebagai Joint Attention (bersama-sama memperhatikan). Pada anak normal caranya adalah, mula-mula ia akan melihat wajah ibu atau pengasuhnya dan kemudian diteruskan dengan kontak mata, dengan maksud menarik perhatian ibu atau pengasuhnya agar bersama-sama memperhatikan sesuatu yang menjadi perhatiannya, kemudian ia menunjuk dengan tangan dan jari-jarinya ke sesuatu yang menjadi perhatiannya itu. Ini adalah suatu awal perkembangan dari komunikasi timbal balik yang membutuhkan suatu interaksi emosional yang sehat.

Namun tidak demikian halnya dengan anak-anak yang mengalami gangguan perkembangan autisme. Pada fase ini ia mengalami kegagalan perkembangan. Umumnya anak-anak autisme tidak melakukan fase dimana ia mencoba membangun kontak komunikasi melalui kontak mata. Ini adalah patron yang khas dari anak penyandang autisme. Namun, menurut Buitelaar, kita juga harus berhati-hati. Tentang ketidakadaan kontak mata ini jangan dijadikan sebagai butir diagnosa, sebab banyak juga anak normal yang tidak melakukan kontak mata saat berinteraksi. Ada juga yang hanya sekilas melakukan kontak mata, baginya sudah cukup. Jadi jangan menghitung berapa lama ia mampu membangun kontak mata, sebab banyak anak normal juga melakukan kontak mata hanya sekilas. Artinya yang harus diperhatikan adalah kualitas dari kontak mata itu. Sebaliknya juga banyak anak-anak autisme yang bisa lama melakukan kontak mata tetapi kualitasnya sangat rendah. Ia memandang mata orang di hadapannya namun tidak bisa membangun kontak secara emosional.

Kegagalan membangun kontak emosional inilah yang menyebabkan perkembangan bicara juga menjadi terganggu dan akhirnya akan menyebabkan gangguan perkembangan bersosialisasi. Karena itu, dijelaskan oleh Buitelaar bahwa dalam penegakan diagnosa autisme perkembangan kemampuan bicara dan bahasa menjadi salah satu butir yang penting. Tetapi kita juga harus berhati-hati, sebab anak-anak yang tidak bisa bicara atau mengalami keterlambatan bicara, belum tentu ia adalah penyandang autisme. Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah kemampuan berbahasa non-verbalnya. Pada anak-anak autisme selain ia mengalami gangguan komunikasi secara verbal, ia juga mengalami gangguan komunikasi nonverbal.

Komunikasi nonverbal adalah suatu komunikasi tanpa menggunakan kata-kata. Komunikasi nonverbal adalah bentuk komunikasi dengan cara membaca bahasa simbolik dan bahasa mimik. Pada anak autisme yang mengalami kegagalan perkembangan membangun kontak emosi tadi, dengan sendirinya juga ia mengalami kegagalan membaca bahasa mimik, karena bahasa mimik pada dasarnya adalah komunikasi dengan cara membaca emosi orang lain. Ketidakmampuan membaca emosi orang lain dalam bentuk ekspresi muka orang lain inilah yang kemudian menyebabkan anak-anak ini juga tidak mampu mengekspresikan wajahnya. Ia adalah anak yang tidak berekspresi, tidak mampu menunjukkan kehangatan, rasa senang atau marah.

Selain ia tak mampu mengutarakan emosinya ia juga kadang mengalami kesalahan dalam mengekspresikan perasaannya, atau ekspresinya tidak pada tempatnya. Padahal komunikasi nonverbal ini merupakan bentuk komukasi yang lebih banyak digunakan oleh kita sehari-hari, dalam membangun hubungan dengan orang lain. Dengan kata lain, sebagian besar komunikasi adalah berbentuk komunikasi non verbal. Dengan sendirinya kegagalan komunikasi nonverbal ini akan pula menyebabkan ia mengalami gangguan bersosialisasi, atau membangun hubungan sosial dengan orang-orang di sekitarnya.

Pada sebuah tes dengan anak autis yang lebih besar, di atas lima tahun, seringkali ia juga mengalami kegagalan membaca jalan pikiran orang, dan merasakan perasaan orang lain. Hal ini oleh Buitelaar ditunjukkan dengan suatu demonstrasi The Theory of Minds (dengan kontra yang menarik dari Eric Shen, -lita), yaitu dengan permainan yang disebut Sally and Anne. Ia memberikan contoh, ada seorang anak autisme dengan usia lebih dari 5 tahun, diberi permainan dua figur boneka bernama Sally dan Anne. Sally mempunyai sebuah keranjang, dan Anne mempunyai sebuah kotak. Anne mempunyai sebuah kelereng di kotaknya. Waktu Anne keluar, oleh Sally kelereng itu dipindahkan ke keranjang. Lalu anak berusia lebih dari 5 tahun tadi ditanya, kalau Anne datang, Anne akan berfikir bagaimana? Pada anak normal, ia akan menjawab, bahwa pasti Anne berpikir bahwa kelerengnya masih berada di tempatnya semula yaitu di dalam kotak. Tetapi anak autisme akan menjawab bahwa kelerengnya berada di dalam keranjang. Anak autisme ini tidak mengerti apa yang akan dipikirkan oleh orang lain. Namun pola autisme yang seperti ini bukanlah juga sebagai butir untuk menegakkan diagnosa, sebab banyak pula anak normal di atas usia lima tahun masih belum bisa membaca jalan pikiran orang lain.

Demonstrasi tadi menunjukkan bahwa bagaimana cara berpikir seorang anak autisme, bahwa ia hanya mampu memakna kejadian-kejadian tersebut secara harafiah. Ia juga mengalami kegagalan dalam pengembangan bentuk fantasi dan imajinasi. Sehingga segalanya menjadi kaku atau rigid dan tidak fleksibel.

Pada anak-anak autisme ini juga mengalami kegagalan dalam melakukan memakna hubungan kejadian yang satu dengan yang lainnya. Jadi seringkali ia mampu mengumpulkan banyak informasi secara detil tetapi tidak mengerti apa fungsi setiap detilnya, dan konteksnya secara global. Karena kegagalan berbagai perkembangan dalam melakukan kontak dengan orang lain ini, ia juga akan bereaksi berbeda dari pada anak-anak normal lainnya.

Anak-anak ini juga sangat sulit menerima perubahan, sangat rigid, dengan ritual-ritual yang sulit dirubah. Kepada anak-anak ini perlu diajarkan bagaimana berperilaku fleksibel.

http://lita.inirumahku.com/health/lita/gejala-awal-autisme/